Bedah Buku “Membangun Opini untuk Diplomasi” Soroti Pentingnya Narasi dalam Isu Global

Headline, Nasional403 Dilihat

Jakarta, Indonesiaxpos – Suasana Ruang Serbaguna Lantai 4 Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Kamis (21/8), terasa hangat sejak pagi. Para akademisi, diplomat, aktivis, hingga mahasiswa berkumpul untuk menghadiri bedah buku “Membangun Opini untuk Diplomasi” karya Prof. Dr. Ir. Daniel Murdiyarso, M.S. Acara yang digelar Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) bersama Indonesia Ocean Justice Initiative (IOJI), IPB University, CIFOR, dan World Agroforestry ini menjadi forum refleksi pentingnya opini publik dalam menguatkan posisi Indonesia di kancah diplomasi internasional.

Dalam sambutan pembuka, Sekjen AIPI, Ir. Chairil Abdini, Ph.D., menekankan bahwa diplomasi modern tak lagi hanya bergantung pada lobi antarnegara, tetapi juga pada kekuatan narasi yang dibangun. “Opini adalah energi. Dengan narasi yang tepat, diplomasi bisa mendapat dukungan lebih luas, baik dari publik maupun pengambil kebijakan,” ujarnya.

Respon penulis disampaikan langsung oleh Prof. Daniel Murdiyarso. Ia berbagi pengalaman panjangnya terlibat dalam berbagai forum internasional terkait perubahan iklim. “Ilmu pengetahuan harus diterjemahkan menjadi opini yang bisa dimengerti publik. Hanya dengan begitu diplomasi kita akan lebih berpengaruh,” jelasnya.

Diskusi semakin menarik ketika para panelis lintas bidang memberikan perspektif. Dr. Todung Mulya Lubis, S.H., LL.M., mengingatkan bahwa opini publik pernah menjadi faktor penentu dalam isu hak asasi manusia dan lingkungan. Dr. Mas Achmad Santosa, S.H., LL.M. menambahkan bahwa diplomasi kelautan Indonesia juga membutuhkan narasi yang kokoh untuk menghadapi negosiasi internasional.

Sementara itu, Dr. Ir. Soeryo Adiwibowo, M.S., dosen IPB University, melihat buku ini sebagai jembatan antara riset dan kebijakan. Farwiza Farhan, M.Sc., aktivis lingkungan dan penerima Whitley Award, menegaskan bahwa diplomasi harus menyentuh dimensi emosional publik. “Cerita yang kuat bisa membuat masyarakat merasa terhubung dengan isu yang dibicarakan di forum global,” katanya.

Dipandu oleh moderator Stephanie Juwana, S.H., LL.M., diskusi berlangsung interaktif. Beberapa peserta bahkan menanggapi dengan antusias, menunjukkan bahwa isu opini dan diplomasi bukan hanya urusan elite, melainkan relevan bagi masyarakat luas.

Acara ditutup dengan kesepakatan bersama bahwa diplomasi Indonesia membutuhkan sinergi antara ilmuwan, diplomat, aktivis, dan masyarakat sipil. Buku “Membangun Opini untuk Diplomasi” pun diharapkan menjadi referensi baru bagi generasi muda dan pembuat kebijakan untuk memahami strategi diplomasi berbasis narasi yang kuat. (Afit)

Komentar