Rocky Gerung: Politik Harus Adil untuk Perempuan dan Anak Muda

Headline, Politik590 Dilihat

Depok, Indonesiaxpos – Pusat Kajian Politik (Puskapol) FISIP Universitas Indonesia menggelar townhall meeting bertajuk “Berdaya dan Bersuara: Peran Perempuan dan Orang Muda dalam Ruang Politik”, di Auditorium Mochtar Riady, Gedung C FISIP UI, Rabu (4/6)

Acara ini mempertemukan tokoh publik, akademisi, serta politisi muda dalam diskusi tentang pentingnya keterlibatan perempuan dan generasi muda dalam menciptakan politik yang lebih adil, etis, dan inklusif.

Salah satu pembicara utama, Rocky Gerung filsuf publik sekaligus Ketua Tumbuh Institute menyampaikan kritik tajam terhadap praktik politik yang dinilai masih eksklusif dan transaksional.

“Bahkan dalam satu detik saja, kita bisa tahu bahwa politik kita kotor. Itu karena kita hanya diajarkan ‘the politics’ siasat merebut kekuasaan. Bukan ‘the political’, yaitu ruang etis untuk membagi keadilan,” tegas Rocky di hadapan ratusan peserta.

Rocky menekankan bahwa keadilan adalah inti dari politik sejati, dan perempuan merupakan manifestasi paling awal dari nilai tersebut.

“Keadilan pertama kali hadir dalam tubuh perempuan yang mengandung. Ia berbagi nutrisi, kecemasan, dan kehidupan. Maka, perempuan adalah fakultas keadilan yang pertama,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti ketimpangan representasi perempuan di ruang politik yang telah berlangsung selama berabad-abad.

“Kuota 30 persen saja masih diperdebatkan, padahal dunia berutang 25 abad kepada perempuan. Apa jadinya kalau mereka menuntut 100 persen plus bunga?” ujar Rocky, yang langsung disambut riuh tepuk tangan.

Rocky menutup pemaparannya dengan penegasan bahwa kampus harus mencetak manusia political yakni warga negara yang sadar akan tanggung jawab etis dalam politik, bukan sekadar pemain kekuasaan.

Sementara itu Direktur Puskapol UI Hurriyah menyampaikan meskipun ada peningkatan jumlah perempuan di parlemen 22% di DPR RI, 37% di DPD RI, dan 19% di DPRD Provinsi representasi itu belum menyentuh aspek substantif.

“Hambatan struktural, budaya patriarki, dan tingginya biaya politik masih menjadi tembok besar bagi perempuan dan anak muda,” jelasnya.

Diskusi juga menghadirkan politisi muda dari berbagai partai diantaranya Garda Maharsi (PDI Perjuangan), Sekarwati (Golkar), dan Fariz Ma’arif (Demokrat) yang membagikan pengalaman mereka dalam menghadapi sistem politik yang masih didominasi oleh elite senior.

Dosen Ilmu Politik FISIP UI, Sri Budi Eko Wardani, turut menyoroti posisi perempuan sebagai silent labor dalam politik bekerja di balik layar tanpa akses ke pengambilan keputusan. Ia menyerukan reformasi internal partai dan pembiayaan publik sebagai kunci membuka ruang lebih luas bagi perempuan dan generasi muda.

Acara ini merupakan bagian dari komitmen Puskapol UI dalam mendorong terciptanya ruang politik yang lebih setara, adil, dan representatif terutama bagi kelompok-kelompok yang selama ini termarjinalkan. (Afit)

Komentar