Bijak Berdigital, BAKTI Komdigi dan DPR RI Gaungkan Pesan Saring Sebelum Sharing

Headline, Nasional20 Dilihat

Jakarta (IndonesiaXpos) – Kemudahan mengakses informasi di era digital perlu diimbangi dengan kemampuan memilah informasi, memeriksa kebenaran berita, serta menjaga etika dalam bermedia sosial. Masyarakat diimbau tidak terburu-buru membagikan informasi yang belum terverifikasi agar terhindar dari penyebaran hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian.

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi Merajut Nusantara bertema “Bijak Berdigital, Saring Sebelum Sharing” yang menghadirkan Anggota DPR RI, Dr. H. Sukamta sebagai keynote speaker, serta Dewan Pengawas BAKTI Komdigi, Virgie Baker, S.S., M.Si dan H. Ahmad Khudhori, Lc selaku Pengasuh Pondok Pesantren Terpadu Abu Bakar Ashiddiq Yogyakarta sebagai narasumber, kegiatan ini diselenggarakan oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) bekerjasama dengan DPR RI, dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Rabu (28/10/2026).

Dalam pemaparannya, Dr. H. Sukamta menekankan bahwa dunia digital kini telah menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Namun, penggunaan media sosial yang berlebihan, terutama hanya untuk menggulir konten tanpa tujuan yang jelas, dapat mengurangi waktu produktif dan membuat pengguna terpapar informasi yang tidak utuh.

Menurutnya, masyarakat perlu lebih bijak mengelola waktu penggunaan perangkat digital dan memanfaatkannya untuk kegiatan yang produktif, seperti belajar, membaca, serta mengembangkan pengetahuan.

“Algoritma yang memilihkan konten untuk kita bukan semata-mata berurusan dengan benar atau salah, melainkan dengan seberapa besar konten tersebut mampu membuat pengguna semakin terikat,” ujar Sukamta.

Ia mengingatkan bahwa konten yang menarik perhatian belum tentu memberikan informasi yang lengkap atau mencerdaskan. Karena itu, pengguna perlu bersikap kritis dan tidak mudah terbawa emosi saat menerima informasi di media sosial.

Sementara itu, H. Ahmad Khudhori, Lc., menjelaskan bahwa prinsip kehati-hatian dalam bermedia sosial sejalan dengan ajaran Islam, salah satunya melalui konsep tabayun, yaitu memeriksa dan memastikan kebenaran informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

Ia merujuk Surah Al-Hujurat ayat 6 yang mengajarkan umat untuk meneliti kebenaran berita agar tidak menimbulkan kerugian bagi orang lain. Selain itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga lisan digital, menghormati privasi, tidak menyebarkan aib, serta menggunakan media sosial untuk menyebarkan kebaikan.

“Berhentilah sejenak untuk memeriksa sebelum menekan tombol bagikan,” pesannya.

Ahmad Khudhori juga mengajak masyarakat mempertimbangkan tiga hal sebelum mengunggah atau membagikan informasi, yakni apakah informasi tersebut benar, apakah perlu dibagikan, serta apakah cara dan waktunya sudah tepat.

Adapun Virgie Baker, S.S., M.Si., menyoroti pentingnya membangun budaya digital yang berlandaskan etika, tanggung jawab, empati, dan rasa saling menghormati. Menurutnya, nilai-nilai kesantunan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari harus tetap dijaga ketika berinteraksi di ruang digital.

Ia mengingatkan bahwa masyarakat berisiko menjadi penyebar informasi keliru ketika terburu-buru bereaksi terhadap konten viral tanpa memeriksa fakta. Risiko lainnya meliputi penipuan daring, kebocoran data pribadi, disinformasi, fitnah, ujaran kebencian, hingga perundungan siber.

Virgie mengimbau masyarakat untuk membaca informasi secara utuh, memeriksa sumber dan tanggal publikasi, membandingkan informasi dengan sumber tepercaya, serta memanfaatkan layanan pemeriksa fakta. Jika menemukan konten bermasalah, masyarakat juga dapat melaporkannya kepada platform terkait.

“Apa yang kita share, apa yang kita klik, apa yang kita post itu mencerminkan identitas kita pribadi. Dan yang namanya jejak digital itu sulit sekali untuk dihilangkan,” tegas Virgie.
Ia menambahkan, konektivitas digital seharusnya dimanfaatkan untuk memperluas akses pengetahuan, mengembangkan kreativitas, membangun jejaring, dan membuka peluang usaha, bukan sekadar menghabiskan waktu untuk mengonsumsi konten yang kurang bermanfaat.
Melalui Sosialisasi Merajut Nusantara ini, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya literasi digital dan mampu menjadi pengguna internet yang kritis, santun, serta bertanggung jawab.

Pesan utama kegiatan ini menegaskan bahwa ruang digital yang sehat tidak hanya bergantung pada teknologi dan aturan, tetapi juga pada perilaku setiap penggunanya. Saring sebelum sharing, pikir sebelum mengetik, dan pastikan setiap informasi yang dibagikan membawa manfaat bagi sesama. ***

Komentar

Kolom Berita