Nyaris Dipenggal Tentara Jepang, Yusuf Ronodipuro Bikin Dunia Tahu Indonesia Merdeka

Headline, Nasional135 Dilihat

JAKARTA (IndonesiaXpos) – Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Namun, perjuangan belum selesai.

Dunia harus tahu bahwa sebuah bangsa baru telah lahir.

Di tengah pengawasan ketat tentara Jepang, seorang pemuda bernama Muhammad Yusuf Ronodipuro mengambil risiko besar. Ia menggunakan radio untuk menyebarkan kabar Proklamasi ke luar Indonesia.

Risikonya bukan sekadar kehilangan pekerjaan.

Nyawanya hampir melayang di ujung samurai.

Secarik Kertas dari Kabar Kemerdekaan

Pada 17 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta membacakan Proklamasi Kemerdekaan di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta, sekitar pukul 10.00 WIB.

Sementara itu, di Radio Hoso Kyoku Jakarta, Yusuf Ronodipuro bekerja sebagai penyiar sekaligus wartawan radio.

Situasi di stasiun radio tersebut berada dalam pengawasan ketat Kempetai, polisi militer Jepang.

Menurut catatan sejarah yang dihimpun Kompas, pada hari yang sama Yusuf didatangi Syahrudin yang membawa pesan dari Adam Malik berisi naskah Proklamasi. Yusuf kemudian mencari cara agar berita tersebut dapat disiarkan.

Masalahnya, ruang-ruang siaran berada dalam pengawasan Jepang.

Yusuf kemudian memanfaatkan studio siaran mancanegara yang sudah tidak digunakan. Ruangan itu ternyata tidak lagi terhubung dengan pemancar.

Dengan mengubah sambungan kabel, Yusuf dan rekan-rekannya berhasil membuat siaran dapat dilakukan.

Pukul 19.00 WIB, Suara Proklamasi Mengudara

Tepat sekitar pukul 19.00 WIB, berita Proklamasi berhasil disiarkan melalui radio.

Yusuf Ronodipuro bersama Bachtiar Lubis dan Suprapto tercatat sebagai tokoh yang berperan dalam penyiaran berita Proklamasi tersebut.

Dari sebuah ruang radio yang berada di bawah pengawasan Jepang, kabar kemerdekaan Indonesia akhirnya menembus udara.

Dunia mendengar bahwa Indonesia telah merdeka.

Tetapi siaran tersebut juga terdengar oleh pihak Jepang.

Dan sejak saat itu, keselamatan Yusuf berada dalam bahaya.

Disiksa dan Nyaris Dieksekusi

Yusuf Ronodipuro dan Bachtiar Lubis kemudian mengalami penyiksaan setelah berita kemerdekaan disiarkan tanpa izin Jepang.

Dalam catatan sejarah yang diterbitkan dalam katalog Direktorat Pelindungan Kebudayaan, keduanya disebut mengalami penyiksaan berat. Bahkan disebutkan seorang anggota Kempetai telah mengeluarkan katana dan bersiap memancung mereka sebelum tindakan tersebut dihentikan.

RRI juga mengisahkan bahwa seorang perwira Jepang sempat menghunus pedang samurai untuk mengeksekusi Yusuf sebelum tindakan tersebut dihentikan oleh perwira Jepang lainnya.

Dengan demikian, kisah Yusuf Ronodipuro nyaris dipenggal karena menyiarkan berita Proklamasi memiliki dasar dalam sejumlah catatan sejarah.

Ia selamat.

Namun perjuangannya belum berakhir.

Dari Penyiar Proklamasi hingga RRI

Tidak lama setelah Indonesia merdeka, para pejuang radio mengambil langkah penting untuk membangun radio nasional.

Pada 11 September 1945, Radio Republik Indonesia atau RRI berdiri.

Yusuf Ronodipuro menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah awal RRI dan dikenal sebagai salah satu pencetus semboyan:

“Sekali di Udara Tetap di Udara.”

Semboyan itu kemudian menjadi bagian dari identitas perjuangan radio Indonesia.

Suara yang Menjaga Ingatan Kemerdekaan

Peran Yusuf juga tidak berhenti pada penyebaran berita Proklamasi.

Ia kemudian ikut berperan dalam perjalanan RRI dan menjadi bagian dari sejarah penyiaran Indonesia.

Kisahnya menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya dilakukan dengan senjata.

Ada yang berjuang melalui tulisan.

Ada yang bergerak melalui diplomasi.

Dan ada pula yang mempertaruhkan nyawa di depan mikrofon agar kabar kemerdekaan Indonesia sampai ke telinga dunia.

Muhammad Yusuf Ronodipuro lahir di Salatiga pada 30 September 1919 dan wafat di Jakarta pada 27 Januari 2008.

Namanya mungkin tidak selalu disebut ketika kita membicarakan Proklamasi.

Namun pada malam 17 Agustus 1945, ia mengambil risiko besar untuk menyampaikan satu berita yang mengubah sejarah:

INDONESIA TELAH MERDEKA.

Fitro
Dikutip dari berbagai sumber