Jumhur Hidayat Ungkap Arah Baru Ekonomi Indonesia di Forum Ekonomi Hijau IKA Unpad

Headline, Nasional188 Dilihat

Jakarta (IndonesiaXpos) – Perubahan iklim, tekanan ekonomi global, dan tuntutan pembangunan rendah karbon menjadi tantangan besar yang mendorong Indonesia mempercepat transformasi menuju ekonomi hijau. Perubahan tersebut membutuhkan kolaborasi lintas sektor agar pertumbuhan ekonomi tetap berjalan seiring dengan keberlanjutan lingkungan.

Dorongan itu mengemuka dalam Forum Ekonomi Hijau (FEH) yang digelar Ikatan Alumni Universitas Padjadjaran (IKA Unpad) pada 17 Juni 2026 di Gedung Kantor Pusat PLN Jakarta. Forum tersebut menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat langkah Indonesia menuju pembangunan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Ketua Umum IKA Unpad, Dr. Ferry Juliantono, S.E., Ak., M.Si., menegaskan Indonesia tidak boleh tertinggal dalam menghadapi perubahan arah pembangunan global yang kini bergerak menuju ekonomi rendah karbon.

“Dunia sedang bergerak sangat cepat menuju ekonomi hijau dan transisi energi. Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton. Kita harus mampu mempercepat transformasi pembangunan agar memiliki daya saing yang kuat di masa depan,” ujar Ferry.

Menurut Ferry, Forum Ekonomi Hijau bukan sekadar forum diskusi, tetapi menjadi momentum membangun sinergi antara pemerintah, industri, akademisi, komunitas, dan masyarakat sipil untuk mendorong aksi nyata.

“Forum ini menjadi momentum untuk membangun akselerasi transisi berkelanjutan melalui kolaborasi nyata antar pemangku kepentingan,” tambahnya.

Dalam forum tersebut, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) RI Moh Jumhur Hidayat turut memberikan sambutan secara virtual melalui sambungan daring.

Jumhur menekankan bahwa ekonomi hijau harus menjadi bagian penting dari strategi pembangunan Indonesia ke depan. Menurutnya, kekayaan alam yang dimiliki Indonesia menjadi modal besar untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tetap menjaga lingkungan.

“Indonesia dianugerahi sumber daya alam yang luar biasa besar. Kekayaan hutan, laut, keanekaragaman hayati, energi, serta potensi ekonomi berbasis alam merupakan modal strategis bangsa untuk membangun kesejahteraan rakyat.

Pertumbuhan ekonomi harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan hidup,” ujar Jumhur.

Ia menilai ekonomi hijau bukan lagi sekadar konsep, melainkan kebutuhan strategis yang membutuhkan kebijakan konkret dan kerja sama lintas sektor.

“Kita membutuhkan sinergi yang kuat agar transisi menuju ekonomi hijau tidak hanya berjalan cepat, tetapi juga inklusif dan mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi baru, lapangan kerja baru, dan kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.

Pandangan serupa disampaikan Prof. Dr. Ir. Laode M. Kamaluddin, M.Sc., M.Eng., Dewan Pakar BA Center sekaligus alumni FMIPA Unpad. Ia menilai ekonomi hijau harus menjadi paradigma baru dalam pembangunan nasional.

Menurutnya, pola pembangunan yang terlalu bergantung pada eksploitasi sumber daya alam memiliki keterbatasan, sehingga transisi menuju ekonomi hijau perlu dipercepat agar pertumbuhan ekonomi tetap berjalan tanpa mengorbankan lingkungan.

“Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi hijau di kawasan apabila mampu memanfaatkan momentum global saat ini secara tepat,” ujar Prof. Laode.

Sementara itu, Head of Center for Environment and Sustainability Science (CESS) Unpad Dr. Susanti Withaningsih, M.Si., menegaskan tantangan lingkungan seperti perubahan iklim, degradasi alam, serta ancaman pangan dan air membuat transisi berkelanjutan semakin penting.

“Ekonomi hijau merupakan transformasi pembangunan menuju sistem yang berkelanjutan, integratif, dan berbasis ilmu pengetahuan,” tutur Susanti.

Ia menambahkan, riset, inovasi, dan literasi publik menjadi kunci dalam mempercepat penerapan ekonomi hijau di Indonesia.

Forum Ekonomi Hijau turut dihadiri sejumlah tokoh nasional dan pemimpin strategis lintas sektor, di antaranya Komisaris Utama PLN sekaligus Ketua Dewan Pakar IKA Unpad Dr. (HC) Ir. Burhanuddin Abdullah H., M.A., Direktur Utama Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup Dr. Joko Tri Haryanto, S.E., M.S.E., serta sejumlah pakar lainnya.

Kehadiran berbagai tokoh tersebut menunjukkan bahwa ekonomi hijau kini bukan lagi sekadar wacana akademik, melainkan telah menjadi agenda strategis nasional yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen bangsa.

Sebagai bagian dari komitmen bersama, Forum Ekonomi Hijau juga menghasilkan deklarasi lintas pemangku kepentingan untuk mendukung percepatan transisi Indonesia menuju ekonomi hijau.
Deklarasi tersebut menjadi langkah memperkuat kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat sipil dalam mendorong kebijakan, inovasi, serta aksi nyata pembangunan berkelanjutan.

Melalui forum ini, IKA Unpad berharap lahir gagasan dan rekomendasi strategis yang dapat mempercepat pembangunan Indonesia yang rendah karbon, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan. (Fit)