Wamendes PDT RI Riza Patria Ajak Kader HMI-KAHMI Bangun Desa, Tantang Maju Pilkades!

Headline, Nasional320 Dilihat

Jakarta (IndonesiaXpos) – Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Wamendes PDT) RI, Ahmad Riza Patria, mengajak kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Majelis Nasional Korps HMI (MN KAHMI) untuk aktif membangun desa.

Hal tersebut disampaikan Riza dalam acara Silaturahmi dan Halal Bihalal MN KAHMI bertema Merawat Persatuan Indonesia untuk Perdamaian Dunia di Aula Kemendes PDT RI, Rabu (13/5/2026).

Riza yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta menegaskan, pembangunan Indonesia ke depan harus dimulai dari desa. Karena itu, seluruh elemen HMI dan KAHMI dinilai memiliki tanggung jawab untuk ikut memajukan desa.

“Kembali ke desa bukan berarti seluruh masyarakat harus tinggal di desa. Namun mahasiswa, pejabat, TNI/Polri, serta kader HMI dan KAHMI harus tetap memiliki kepedulian terhadap pembangunan desa melalui ilmu, teknologi, dan akses yang dimiliki,” ujar Riza.

Di sisi lain, ia mengungkap tiga persoalan utama desa saat ini, yakni kualitas sumber daya manusia (SDM), infrastruktur yang belum memadai, serta keterbatasan pembiayaan pembangunan.

“Kita bisa mengatasi masalah desa dengan meningkatkan potensi serta mengurai berbagai kendala yang ada,” imbuhnya.

Dalam sambutannya, Riza juga mengapresiasi konsistensi MN KAHMI yang terus menghadirkan ide, gagasan, dan aktivitas positif bagi masyarakat dan bangsa. Ia berharap kader HMI dan KAHMI mampu membawa paradigma intelektual, kritis, dan berintegritas hingga ke tingkat desa, sekaligus menjadi lokomotif perubahan sosial yang konstruktif.

Tak hanya itu, Riza turut menantang kader HMI dan KAHMI untuk ikut dalam kontestasi pemilihan kepala desa (Pilkades).
Menurutnya, menjadi kepala desa merupakan wujud pengabdian untuk membawa kemaslahatan umat, meningkatkan derajat masyarakat, serta mengembangkan potensi desa.

Ia menyebut, berdasarkan data terdapat lebih dari 75 ribu desa di Indonesia. Jika setiap desa diikuti dua kader HMI/KAHMI dalam Pilkades, maka akan muncul sekitar 150 ribu calon kepala desa di seluruh Indonesia.

Meski didorong terlibat dalam politik, Riza mengingatkan agar kader tetap menjaga independensi etis dan organisatoris, serta memastikan langkah politik tetap berlandaskan nilai keislaman dan keindonesiaan, bukan kepentingan pragmatis.
Merawat Persatuan untuk Perdamaian Dunia

Acara Silaturahmi Kebangsaan dan Halal Bihalal MN KAHMI 2026 berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan. Kegiatan ini menjadi simbol pentingnya dialog, silaturahmi, dan kolaborasi lintas elemen dalam menjaga harmoni bangsa.

Selain Riza, acara ini juga dihadiri Jusuf Kalla, Koordinator Presidium MN KAHMI Abdullah Puteh, Duta Besar Iran, serta berbagai tokoh nasional dan elemen masyarakat.

Dalam sambutannya, Abdullah Puteh menegaskan bahwa tema kegiatan tersebut bukan sekadar slogan, melainkan panggilan sejarah dan amanah bangsa.

“Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan panggilan sejarah dan amanah bangsa. Indonesia dibangun atas keberagaman suku, bahasa, budaya, dan agama dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi persatuan,” ujarnya.

Ia menambahkan, di tengah dinamika global, seluruh elemen bangsa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga persaudaraan, memperkuat toleransi, serta merawat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sementara itu, Jusuf Kalla lebih menyoroti pentingnya keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, para pendiri bangsa telah meletakkan tujuan untuk menyejahterakan rakyat, melindungi seluruh rakyat, serta berperan dalam perdamaian dunia.

Ia juga menekankan pentingnya keadilan dalam pemerintahan.
“Dalam Pancasila, kata ‘keadilan’ disebut dua kali. Banyak konflik di Indonesia terjadi karena persoalan keadilan dan kesalahpahaman,” ujar JK.

Menurutnya, pembangunan desa yang digaungkan pemerintah merupakan salah satu bentuk keadilan bagi masyarakat.

JK juga menyinggung ketahanan Iran yang tetap eksis meski menghadapi embargo selama puluhan tahun. Ia menilai kunci utamanya adalah kreativitas.

Selain itu, ia berbagi pandangan soal penyelesaian konflik. Menurutnya, untuk mendamaikan pihak yang berselisih, diperlukan pemahaman terhadap kedua belah pihak.

Ia pun mengutip hadist Rasulullah SAW bahwa amalan terbaik setelah ibadah adalah mendamaikan pihak yang berselisih, yang dalam Islam dikenal sebagai ishlah dzati bain, yakni memperbaiki hubungan antarsesama. (Afit)