Jakarta (Indonesiaxpos.com) – Arshaka Kenandra, lelaki kecil berumur 2 tahun 7 bulan harus berjuang untuk penyembuhan kelainan jantung bawaan, Jantung Bocor yang dideritanya, sejak masih bayi.
Siang itu Arshaka tampak ceria, begitu sampai di lantai lima rumah sakit Jantung Jakarta Heart Center (JHC Jakarta) pasalnya di lantai 5 ini khusus untuk pasien anak yang dilengkapi dengan ruang tunggu lengkap dengan mainanya.
Arshaka langsung naik mobil-mobilan yang ada disana, sesekali senyumnya menghiasi wajahnya yang tampak ceria. Keberadaan Arshaka bersama kedua orang tuanya siang itu untuk konsul dan perawatan di rumah sakit yang ada di bilangan Matraman, Jakarta Timur.
Putra pasangan Bapak Lusino dan Ibu Eneng yang beralamat di Kp.Malang, Ds.Ciseeng, Kab.Bogor ini diketahui menderita Jantung Bocor sejak di USG, dan di yakinkan lagi dengan katerisasi jantung.
Menurut Lusino, selaku ayahnya, efek Penyakit Jantung Bawaan (PJB), bibir biru, kuku pada tangan dan kaki juga berwarna biru, nafasnya suka ngos-ngosan, pertumbuhanya terhambat. Kalau anak saya lagi ngrasain ga enak di dada, anak saya pasti nungging.
“Gejala awalnya, yaitu waktu diperiksa detak jantungnya beda, nafasnya ngos-ngosanan sama kuku tangan, kaki, sama bibir biru semua, apa lagi kalau nangis. Ketahuan bocor saat di USG terus yakinkan lagi dengan katerisasi Jantung,”ujar Lusino.
Berdasarkan diagnosa dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati saat itu, Arshaka menderita tiga jenis kelainan yakni Patent Ductus Arteriosus (PDA), Ventricular Septal Defect (VSD), Ventricular Septal Defect (VSD) ; Jantung bocor, dan saluran pembuluh darah ada yang rapat. Namun karena fasilitas di rumah sakit tersebut kurang lengkap maka Arshaka di rujuk ke rumah sakit jatung lainya, yang memiliki peralatan lebih lengkap.
Menurut hasil pemeriksaan sementara dari dokter, pada medio November 2025 di RS JHC Jakarta ada lobang dan penyempitan pembuluh darah yang ke paru dan diduga cukup parah. Sehingga pada pasien terjadi kebiruan di bibir dan rongga mulut, serta kuku pasien ada kelainan. Penyempitan pembuluh darah tersebut harus melalui tindakan operasi, sementara untuk pemeriksaan saturasi oksigen (70).
Kamis,05 Maret 2026, Arshaka menjalani operasi, waktu penanganan operasi memakan waktu kurang lebih lima (5) jam. Menurut penjalasan dokter seusai operasi, Alhamdulillah operasi berjalan lancar, untuk lubang dan penyempitan yang ada sudah ditangani, sementara untuk saturasi oksigen saat ini sudah (100), sehingga kondisi Arshaka sudah terlihat tidak biru lagi pada beberapa bagian tubuhnya.
Operasi agak lama dikarenakan ada tindakan untuk menutup katup yang bocor, kedepan menurut dokter, Arshaka bisa normal, tetapi harus terus dilakukan kontrol. Dan kondisi saat ini Arshaka masih dibantu alat peranafasan dan masih berada di ruang ICU dalam proses pemulihan pasca operasi.
Namun pada Sabtu, 07 Maret 2026 info dari Tim Bagana GR yang ikut mendampingi Arshaka selama di rumah sakit menginformasikan bahwa Saturasi Oksigenya mengalami penurunan, juga terdapat cairan putih di paru-parunya, dan sudah dilakukan tindakan oleh dokter.
Sampai tulisan ini diturunkan keberadaan Arshaka masih berada di ruang ICU untuk perawatan pasca operasi, semoga keberadaanya lekas pulih dan bisa bermain mobil-mobilan dengan senyum yang penuh ceria, seperti pada saat itu.
*Data Kasus Kelainan Jantung Pada Anak*
Berdasarkan data yang ada, setiap tahunya ada sekitar 40.000 bayi di Indonesia dengan kelainan jantung bawaan, termasuk jantung bocor (ASD, VSD, PDA), dari jumlah tersebut sebanyak : 24.000 di antaranya membutuhkan operasi pada tahun pertama kehidupanya.
Ukuran kebocorannya juga bervariasi : Kecil (>5 mm), Seang (5-10 mm), Besar (> 10 mm, yang sering menyebabkan gangguan pertumbuhan dan sesak nafas.
Gejala: Anak mudah capek, napas cepat/sesak, berat badan sulit naik, sering infeksi paru, dan tumbuh kembang terganggu.
Diagnosis dini melalui pemeriksaan dokter (seperti ekokardiografi) sangat penting untuk menentukan tindakan, apakah cukup dipantau atau memerlukan operasi.
*Arshaka Tidak Sendirian*
Selama pengobatan, mulai dari pemeriksaan, konsultasi sampai operasi dan pasca operasi Tim Bagana GR terus menemani dan ikut memantau perkembangan Arshaka. Keberadaan Tim Bagana GR ini menjadi penguat dan penyemangat terutama bagi kedua orang tuanya dalam menghadapi ujian untuk penyembuhan putranya.
Bagana GR sebagai lembaga kemanusiaan terus berkomitmen untuk selalu hadir dan peduli kepada mereka yang membutuhkannya, sehingga warga masyarakat yang sedang mengalami ujian merasa tenang,
Ada tangan-tangan mungil yang selalu siap untuk menggandengnya, sehingga ujian yang sedang menimpanya seolah tidak terasa berat, ada teman dan kawan yang selalu bisa diajaknya untuk saling berbagi.
Keberadaan Bagana GR terus peduli dan selalu hadir ditengah tengah mereka yang kurang beruntung dan membutuhkannya. (*/Fit)
